Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.
Wahai Ikhwan yang mulia. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkati dan baik: assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Pada malam ini, yang merupakan akhir bulan Sya’ban, kita menutup serial kajian kita tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kitab Allah swt. Insya Allah, pada sepuluh malam yang pertama bulan Syawal, kita kembali kepada tema tersebut. Setelah itu kita akan membuka serial baru dari ceramah-ceramah Ikhwan, yang temanya insya Allah: Kajian-Kajian tentang Sirah Nabi dan Tarikh Islam.
Ramadhan adalah bulan perasaan dan ruhani, serta saat untuk menghadapkan diri kepada Allah. Sejauh yang saya ingat, ketika bulan Ramadhan menjelang, sebagian Salafush Shalih mengucapkan selamat tinggal kepada sebagian lain sampai mereka berjumpa lagi dalam shalat ‘Id. Yang mereka rasakan adalah ini bulan ibadah, bulan untuk melaksanakan shiyam (puasa) dan qiyam (shalat malam) dan kami ingin menyendiri hanya dengan Tuhan kami. Ikhwan sekalian, sebenarnya saya berupaya untuk mencari kesempatan untuk mengadakan kajian Selasa pada bulan Ramadhan, tetapi saya tidak mendapatkan waktu yang sesuai. Jika sebagian besar waktu selama setahun telah digunakan untuk mengadakan kajian-kajian tentang Al-Qur’an, maka saya ingin agar waktu yang ada di bulan Ramadhan ini kita gunakan untuk melaksanakan hasil dari kajian-kajian tersebut. Apalagi, banyak di antara ikhwan yang melaksanakan shalat tarawih dan memanjangkannya, sampai mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali di bulan Ramadhan. Ini merupakan cara mengkhatamkan yang indah. Jibril biasa membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi saw. Sekali dalam setahun. Nabi saw. mempunyai sifat dermawan, dan sifat dermawan beliau ini paling menonjol terlihat pada bulan Ramadhan ketika Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau. Beliau lebih dermawan dan pemurah dibandingkan dengan angin yang ditiupkan. Kebiasaan membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an ini terus berlangsung sampai pada tahun ketika Rasulullah saw. diberi pilihan untuk menghadap kepada Ar-afiq Al-A’la (Allah swt. — pen.), maka ketika itu Jibril membacakan dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an beliau dua kali. Ini merupakan isyarat bagi Nabi saw. bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir beliau hidup di dunia. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Rasulullah saw. pernah bersabda mengenainya, “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalangi-nya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa ‘at untuknya.’ Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dan tidur di malam hari, maka perkenankan aku memberikan syafaat untuknya. ‘Maka Allah memperkenankan keduanya Wahai Ikhwan, dalam diri saya terbetik satu pemikiran yang ingin saya bicarakan. Kerana kita berada di pintu masuk bulan Puasa, maka hendaklah pembicaraan dan renungan kita berkaitan dengan tema bulan Ramadhan. Ikhwan sekalian, kita telah berbicara panjang lebar tentang sentuhan perasaan cinta dan persaudaraan yang dengannya Allah telah menyatukan hati kita, yang salah satu dampaknya yang paling terasa adalah terwujudnya pertemuan ini kerana Allah. Bila kita tidak akan berjumpa dalam masa empat pekan atau lebih, maka bukan berarti bara perasaan ini harus padam atau hilang. Kita tidak mesti melupakan prinsip-prinsip luhur tentang kemuliaan dan persaudaraan kerana Allah, yang telah dibangun oleh hati dan perasaan kita dalam majelis yang baik ini. Sebaliknya, saya yakin bahwa ia akan tetap menyala dalam jiwa sampai kita biasa berjumpa kembali setelah masa percutian ini, insyaAllah. Jika ada salah seorang dari Anda melaksanakan shalat pada malam Rabu, maka saya berharap agar ia mendoakan kebaikan untuk ikhwannya. Jangan Anda lupakan ini! Kemudian saya ingin Anda selalu ingat bahwa jika hati kita merasa dahaga akan perjumpaan ini selama minggu-minggu tersebut, maka saya ingin Anda semua tahu bahwa dahaganya itu akan dipuaskan oleh mata air yang lebih utama, lebih lengkap, dan lebih tinggi, yaitu hubungan dengan Allah swt., yang merupakan cita-cita terbaik seorang mukmin bagi dirinya, di dunia maupun akhirat. Kerana itu, Ikhwan sekalian, hendaklah Anda semua berusaha agar hati Anda menyatu dengan Allah swt. Pada malam-malam bulan mulia ini. Sesungguhnya puasa adalah ibadah yang dikhususkan oleh Allah swt. bagi diri-Nya sendiri. “Semua amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. la untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasannya.” Ini, wahai Akhi, mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilaksanakan oleh manusia mengandung manfaat lahiriah yang bisa dilihat, dan di dalamnya terkandung semacam bagian untuk diri kita. Kadang-kadang jiwa seseorang terbiasa dengan shalat, sehingga ia ingin melaksanakan banyak shalat sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan dzikir, sehingga ia ingin banyak berdzikir kepada Allah sebagai bagian bagi dirinya. Kadang-kadang ia terbiasa dengan menangis kerana takut kepada Allah, maka ia ingin banyak rnenangis kerana Allah sebagai bagian bagi dirinya. Adapun puasa, wahai Akhi, di dalamnya tidak terkandung apa pun selain larangan. Ia harus melepaskan diri dari bermacam keinginan terhadap apa yang menjadi bagian dirinya. Bila kita terhalang untuk berjumpa satu sama lain, maka kita akan banyak berbahagia kerana bermunajat kepada Allah swt. Dan berdiri di hadapan-Nya, khusus-nya ketika melaksanakan shalat tarawih. Ikhwan sekalian, hendaklah senantiasa ingat bahwa Anda semua berpuasa kerana melaksanakan perintah Allah swt. Maka berusahalah sungguh-sungguh untuk beserta dengan Tuhan Anda dengan hati Anda pada bulan mulia ini. Ikhwan sekalian, Ramadhan adalah bulan keutamaan. Ia mempunyai kedudukan yang agung di sisi Allah swt. Hal ini telah dinyatakan dalam kitab-Nya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeza (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah:185) Wahai Akhi, pada akhir ayat ini Anda mendapati: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185) Puasa adalah kemanfaatan yang tidak mengandung bahaya. Dengan penyempurnaan puasa ini, Allah swt. akan memberikan hidayah kepada hamba-Nya. Jika Allah memberikan taufiq kepada Anda untuk menyempurnakan ibadah puasa ini dalam rangka menaati Allah, maka ia adalah hidayah dan hadiah yang patut disyukuri dan selayaknya Allah dimahabesarkan atas karunia hidayah tersebut. “Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Al-Baqarah: 185) Kemudian, lihatlah wahai Akhi, dampak dari semua ini. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah; 186) Wahai Akhi, di sini Anda melihat bahwa Allah Yang Maha Benar meletakkan ayat ini di tempat ini untuk menunjukkan bahwa Dia swt. paling dekat kepada hamba-Nya adalah pada bulan mulia ini. Allah swt. telah mengistimewakan bulan Ramadhan. Mengenai hal ini terdapat beberapa ayat dan hadits. Nabi saw. bersabda, “Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu, kemudian datang seorang penyeru dari sisi Allah Yang Mahabenar swt “Wahai pencari kejahatan, berhentilah! Dan wahai pencari kebaikan, kemarilah!’” Wahai Akhi, pintu-pintu surga dibuka, kerana manusia berbondong-bondong melaksanakan ketaatan, ibadah, dan taubat, sehingga jumlah pelakunya banyak. Setan-setan dibelenggu, kerana manusia akan beralih kepada kebaikan, sehingga setan tidak mampu berbuat apa-apa. Hari-hari dan malam-malam Ramadhan, merupakan masa-masa kemuliaan yang diberikan oleh Al-Haq swt., agar orang-orang yang berbuat baik menambah kebaikannya dan orang-orang yang berbuat jahat mencari karunia Allah swt. sehingga Allah mengampuni mereka dan menjadikan mereka hamba-hamba yang dicintai dan didekatkan kepada Allah. Keutamaan dan keistimewaan paling besar bulan ini adalah bahwa Allah swt. telah memilihnya menjadi waktu turunnya Al-Qur’an. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh bulan Ramadhan. Kerana itu, Allah swt. mengistimewakan dengan menyebutkannya dalam kitab-Nya.” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an.” (Al-Baqarah: 185) Ada ikatan hakikat dan fisik antara turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadhan. Ikatan ini adalah selain bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka di bulan ini pula Dia mewajibkan puasa. Kerana puasa artinya menahan diri dari hawa nafsu dan syahwat. Ini merupakan kemenangan hakikat spiritual atas hakikat material dalam diri manusia. Ini berarti, wahai Akhi, bahwa jiwa, ruh, dan pemikiran manusia pada bulan Ramadhan akan menghindari tuntutan-tuntutan jasmani. Dalam kondisi seperti ini, ruh manusia berada di puncak kejernihannya, kerana ia tidak disibukkan oleh syahwat dan hawa nafsu. Ketika itu ia dalam keadaan paling siap untuk memahami dan menerima ilmu dari Allah swt. Kerana itu, bagi Allah, membaca Al-Qur’an merupakan Ibadah paling utama pada bulan Ramadhan yang mulia. Pada kesempatan ini, Ikhwan sekalian, saya akan meringkaskan untuk Anda semua pandangan-pandangan saya tentang kitab Allah swt., dalam kalimat-kalimat ringkas.
1. Perbaikan Aqidah Anda mendapati bahwa Al-Qur’anul Karim banyak menjelaskan masalah aqidah dan menarik perhatian kepada apa yang seharusnya tertanam sungguh-sungguh di dalam jiwa seorang mukmin, agar ia bisa mengambil manfaatnya di dunia dan di akhirat. Keyakinan bahwa Allah swt. adalah Yang Maha Esa, Yang Mahakuasa, Yang menyandang seluruh sifat kesempurnaan dan bersih dari seluruh kekurangan. Kemudian keyakinan kepada hari akhir, agar setiap jiwa dihisab tentang apa saja yang telah dlkerjakan dan ditinggal kannya. Wahai Akhi, jika Anda mengumpulkan ayat-ayat mengenai aqidah dalam Al-Qur’an, niscaya Anda mendapati bahwa keseluruhannya mencapai lebih dari sepertiga Al-Qur’an. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Baqarah, “Hai manusia, beribadahlah kepada Rabb kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; kerana itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 21-22) Wahai Akhi, setiap kali membaca surat ini, Anda mendapati kandungannya ini melintang di hadapan Anda. Allah swt. juga berfirman dalam surat Al-Mukminun, “Katakanlah, Kepunyaan siapa-kah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertaqwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?’ Sebenar-nya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta.” (Al-Mukminun: 84-90) Allah swt. juga berfirman di surat yang sama, “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikannya) maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikannya), maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (Al-Mukminun: 101-103) Allah swt. juga berfirman, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya. Kerana sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 1-8) Allah swt. berfirman, “Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kalian apakah hari Kiamat itu?” (Al-Qari’ah: 1-3) Dalam surat lain Allah berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu). Dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (At-Takatsur: 1-4) Wahai Akhi, ayat-ayat mi menjelaskan hari akhirat dengan pen-jelasan gamblang yang bisa melunakkan hati yang keras. 2. Pengaturan Ibadah Anda juga membaca firman Allah swt. mengenai ibadah. “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (Al-Baqarah: 43) “…diwajib-kan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” (Al-Baqarah: 183) “…mengerjakan haji adalah kewa-jiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali-Imran: 97) Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.” (Nuh: 10) Dan banyak lagi ayat-ayat lain mengenai ibadah. 3. Pengaturan Akhlak Mengenai pengaturan akhlak, wahai Akhi, Anda biasa membaca firman Allah swt. “Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya.” (Asy-Syams: 7-8) “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11) “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian. Dan orang-orang yang sabar kerana mencari ridha Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan), ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu),’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar-Ra’d: 19-24) Wahai Akhi, Anda mendapati bahwa akhlak-akhlak mulia bertebaran dalam kitab Allah swt. dan bahwa ancaman bagi akhlak-akhlak tercela sangatlah keras. “Dan orang-orang yang memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (Ar-Ra’d: 25) Inilah peraturan-peraturan tersebut, Ikhwan sekalian, sebenarnya, peraturan-peraturan itu lebih tinggi daripada yang dikenal oleh manusia, kerana di dalamnya terkandung semua yang dikehendaki manusia untuk mengatur urusan masyarakat. Ketika mengupas sekelompok ayat, maka Anda mendapati makna-makna ini jelas dan gamblang. “Seperempat Juz Khamr” yang diawali dengan “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi” (Al-Baqarah: 219), mengandung lebih dari dua puluh lima hukum praktis: tentang khamr, judi, anak-anak yatim, pernikahan laki-laki dan wanita-wanita musyrik, haid, sumpah, ila’, talak, rujuk, khuluk, nafkah, dan hukum-hukum lainnya yang banyak sekali Anda dapatkan dalam seperempat juz saja. Hal ini kerana surat Al-Baqarah datang untuk mengatur masyarakat Islam di Madinah. Ikhwan tercinta, hendaklah Anda semua menjalin hubungan dengan kitab Allah. Bermunajatlah kepada Tuhan dengan kitab Allah. Hendaklah masing-masing dari kita memperhatikan prinsip-prinsip dasar yang telah saya sebutkan ini, kerana itu akan memberikan manfaat yang banyak kepada Anda, wahai Akhi. Insya Allah Anda akan mendapatkan manfaat darinya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada segenap keluarga dan sahabatnya. |
Archive for the ‘Ramadhan’ Category

Hadith Tsulasa’: Renungan tentang Bulan Ramadhan oleh Imam As-Syahid Hassan Al-Banna

Jom Ramadhan!
Assalamualaikum saudara/i pembaca..
It is obvious that Ramadhan is just around the corner..and it is also obvious that not many people realizes it with the truest sense of reality..we, the people of this new era, are too busy preparing ourselves for our ‘Merdeka Celebration’ as if the merdeka we achieved in 1957 was the biggest form of merdeka..also as if the celebration would help the cause of maintaining if not improving the ‘merdeka’ we received (read: mengemis) from the british colonizing power..we are also too busy focusing on our country’s political situation..(i’m not against being politically aware) but do not mismanage ur time and not give every requirement it’s haq (bukan ke al-Islam yang kita fahami ini merangkumi semua aspek kehidupan..dan ia semua sama penting..sbgmn pentingnya aqidah yang sejahtera dan ibadah yg sahih?)
i’d like to be able to knock some hearts and heads, my we understand and realize this very sad fact of our new generation..
Allahumma ballighna Ramadhan..
JOM RAMADHAN!

Bicara Ramadhan 4: Bulan Ukhuwwah
*Kitab Al-Umm li al Shafi’
Sajak Imam as-Syafie
Jika seseorang membalas persahabatanmu
dengan kepura-puraan
jauhilah dan jangan terlanjur memberi belas kasihan
banyak orang yang boleh mengganti kedudukannya
dengan meninggalkan, engkau merasa lebih nyaman
hati masih sanggup menahan sabar menanti sang kekasih
walau jarak terlalu jauh memisahkan
Tidak semua orang yang kau suka
akan suka kepadamu
dan tidak semua orang yang kauberi kesetiaan
akan membalas dengan ketulusan
jika persahabatan tidak tercipta secara alami
apalah erti sebuah cinta yang penuh kepalsuan
apalah erti seorang sahaba
jika sanggup mengkhianati sahabatnya
berubah sikap dari cinta menjadi dendam
melupakan keindahan hubungan yang pernah terjalin
membuka rahsia yang selama ini dijaga
apa erti kehidupan dunia jika tidak melahirkan
seorang sahabat nan setia, memegang janji
lagi baik hati..
Reminiscing events of Banting years……..
Wallahul musta’an

Ramadhan 3: Ramadhan Cries..
TRAGEDI MENIMPA NURIN – SATU TAZKIRAH RAMADHAN
Wanita JIM merakamkan perasaan sedih yang teramat sangat di atas berita pembunuhan kejam anak perempuan comel yang tidak berdosa, Nurin Jazlin setelah hampir empat minggu kehilangannya dihebohkan di akhbar tempatan. Ucapan takziah ditujukan khas kepada ibu dan bapa Allahyarhamah serta keluarganya yang tentu sekali begitu terkesan oleh insiden malang yang menimpa Nurin. Sesungguhnya, nama Nurin akan bersemadi selama-lamanya dalam hati setiap rakyat Malaysia yang turut sama berkabung di atas pemergiannya.
Wanita JIM mengutuk sekeras-kerasnya tindakan kejam dan sadis yang dilakukan oleh pembunuh yang sudah hilang perasaan perikemanusiaannya. Insiden tragis ini ternyata mencemarkan kesucian bulan Ramadhan yang mulia dan suci ini, di mana kebanyakan umat Islam sedang berusaha mempertingkatkan dan membersihkan diri dari dosa dan noda. Kisah sedih Nurin kini menjadi satu lagi peristiwa hitam keganasan seksual terhadap kanak-kanak dan wanita yang berlaku di tanahair tercinta ini. Tragedi ini mengingatkan kita semua kepada peristiwa yang menimpa Allahyarhamah adik Nurul Huda dan ramai lagi mangsa keganasan seksual sebelum ini. Namun ternyata, segala tindakan, akta dan hukuman yang dijalankan selama ini masih tidak mampu menghalang manusia pemangsa yang kejam dan tidak berhati perut ini dari terus mencari mangsanya. Siapakah pula mangsa seterusnya? Persoalan ini akan mencetuskan satu suasana gerun dan ketakutan yang semakin menyelubungi masyarakat hari ini.
Seperti juga biasa, tragedi ini akan mencetuskan dan membangkitkan perasaan marah yang meruap-ruap di kalangan orang ramai. Cadangan demi cadangan dianjurkan, tindakan dan hukuman diperketatkan. Tidak kurang juga yang cuba meletakkan kesilapan dan kesalahan di atas bahu pihak tertentu seperti ibu bapa dan pihak berkuasa. Seringkali pula, reaksi spontan sebegitu perlahan-lahan hilang dan pudar ditelan masa. Tidak mungkin kita akan dapat membasmi jenayah seksual ini dengan tindakan `hangat-hangat tahi ayam’, sebaliknya amat perlu kita membuat muhasabah diri dan refleksi yang jujur bagi mencari punca dan penyebab utama jenayah seperti ini berlaku.
Wanita JIM sudah seringkali menekankan, fenomena peningkatan keganasan seksual di kalangan masyarakat berkait rapat dengan longgarnya ikatan spiritualiti dan lunturnya pegangan akidah individu. Tanpa adanya perasaan takut kepada kemurkaan Tuhan dan rasa harap kepada keredhaan-Nya, jiwa manusia dengan mudah diperdayakan oleh nafsu syahwatnya. Apabila syahwatnya mengganas dan menjadi raja, individu tersebut tidak akan teragak-agak melakukan sesuatu yang di luar dari jangkaan kebiasaan kita. Integriti dan amanah tidak lagi menjadi identiti diri. Perkara pokok mengenai keteguhan iman dan takwa inilah yang perlu ditanamkan setiap masa dan ketika dalam diri individu terutamanya generasi muda.
Wanita JIM meminta ibu bapa memuhasabah diri secara jujur dan telus, menilai semula sejauhmanakah konsep akidah dan kepercayaan ini berakar umbi dalam jiwa anak-anak mereka. Disamping mencadangkan agar ibu bapa sentiasa lebih peka dengan aspek keselamatan anak-anak di luar rumah, sepertimana yang sering diperkatakan, Wanita JIM benar-benar menyarankan agar kesemua ibu bapa memastikan anak-anak mereka dididik dengan acuan nilai dan moral yang tinggi, berpaksikan kepercayaan agama yang dianuti. Fahaman materialistik dan gaya hidup hedonistik yang begitu berleluasa di kalangan keluarga moden hari ini, mestilah digantikan dengan cara hidup sederhana yang menekankan tentang integriti, amanah dan keseimbangan.
Jika para ibu bapa di Malaysia masih leka dan terus menerus melakukan kesilapan membesarkan dan mendidik anak-anak mereka, jangan terkejut sekiranya kita sebenarnya sedang membesarkan satu generasi penjenayah yang berhati kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bukankah sudah tiba masanya setiap seorang dari kita melakukan refleksi tersebut?
Pihak berwajib disarankan memberikan fokus yang serius dalam usaha menanamkan nilai agama dan kerohanian yang tinggi kepada ahli-ahli masyarakat. Keseimbangan hidup mengejar dunia dan akhirat akan mencetuskan manusia yang kompetatif dan berdaya-saing tinggi. Dalam masa yang sama, Wanita JIM menuntut agar segala unsur-unsur yang terbukti merosak jati diri generasi muda dan dewasa ditangani dengan tegas, berkesan dan berhemah.
PASTIKAN KEMATIAN NURIN TIDAK SIA-SIA. JADIKAN IA SATU TITIK MULA UNTUK MASYARAKAT KEMBALI KEPADA ASAS AKIDAH YANG MANTAP DAN KUKUH.
Prof. Madya Dr. Harlina Halizah Siraj
Ketua Wanita Pertubuhan Jamaah Islah Malaysia (JIM)
012-3243134

Ramadhan 2: Pesan Tokoh
RAMADAN ADALAH KURNIAAN RABBANI DAN PELUANG UNTUK ISLAH
Bulan ramadhan: Bulan Iman dan Perubahan
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, salawat dan salam atas pemuka para utusan, nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabat seluruhnya, selanjutnya…
Tidak lama lagi, bahkan beberapa saat lagi akan hadir ditengah kita tetamu yang mulia dan bulan yang agung, yang selalu kita nantikan sepanjang tahun, kita nantikan sepanjang hari dan malam, untuk memperbaharui keimanan kita, memperkukuh semangat kita, menguatkan azimah, melepaskan beban keraguan dan kesulitan dunia, membersihkan kotoran-kotoran jiwa dan penyakit hati.
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqarah : 183).
Taqwa kepada Allah adalah tujuan setiap muslim, harapan dari ibadah di bulan yang mulia ini, yang di dalamnya Allah mewajibkan puasa atas umat muslim yang berakal, baligh dan mampu, puasa adalah ibadah yang Allah mengumpulkan ganjaran dan pahalanya di akhirat, dan Allah SWT yang membalas direct ganjarannya, dalam hadith qudsi Allah berfirman:
“كل عمل ابن آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به”.
“Setiap amalan anak cucu Adam miliknya kecuali puasa, dia adalah milik-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya dengannya”.
Ramadhan adalah bulan Al-Quran, dan Al-Quran adalah dustur (undang-undang) umat yang kekal, barangsiapa berkata dengannya akan benar, barangsiapa yang berhukum dengannya akan adil, barangsiapa yang menyeru kepadanya akan diberikan petunjuk ke jalan yang lurus, dan barangsiapa yang mencari pada selainnya akan disesatkan Allah. Al-Quran adalah seperempat hati, cahaya mata, tali Allah yang kukuh, cahaya yang nyata, para salafus salih banyak berpegang teguh kepadanya sehingga mereka mampu mengisi dunia dengan adil dan rahmat, cahaya dan barakah, adapun umat sekarang banyak yang lepas darinya sehingga Allah memberikan kekuasan kepada mereka atas orang yang paling jahat, menghinakan mereka dan merampas kekayaaan mereka, menjajah negeri mereka dan mengisi dunia dengan kezaliman dan kekejaman.
Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan
Ramadhan adalah bulan jihad, pengorbanan dan kemenangan, di dalamnya terdapat perang pertama bagi kaum muslimin iaitu perang badar, di dalamnya pula terdapat pelajaran bagi kaum muslimin akan pengorbanan dan fida (mengorbankan jiwa), sehingga Allah menuliskan bagi mereka kemenangan dan keunggulan dalam perang badr, Hittin dan Ain Jalut hingga sampai pada perang pada tanggal ke-10 dari bulan ramadhan tahun 1393 H yang telah memberikan kemenangan di dalamnya dari pasukan arogan Zionis, selain meningkat cahaya iman, dan bergelora jiwa prajurit kita saat itu saat mereka berpuasa sambil mengumandangkan takbir : “Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Ramadhan juga merupakan bulan kebaikan, ihsan dan infaq di jalan Allah, di dalamnya Allah akan melipat gandakan ganjaran dan pahala… satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus lipat, dan Allah berkuasa melipatgandakan ganjaran, dan Rasulullah saw adalah penderma dan dermawan dalam setiap keadaan, dan kedermawan akan meningkat ketika berada pada bulan ramadhan, seakan beliau seperti “angin yang bertiup” selalu memberikan sesuatu seakan tidak takut miskin, dan seharusnya begitulah kondisi umat Islam saat ini, orang kaya mau menginfakkan hartanya untuk para fakir miskin, memenuhi rasa lapar mereka, menutupi tubuh mereka yang telanjang dan mengobati mereka yang sakit, sehingga terwujud gotong royong dan saling menyayangi, memperkukuh hubungan masyarakat dan saling berpegang teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan.
Ramadhan adalah bulan amal, kesungguhan dan ijtihad, bulan pengorbanan, memberi dan himmah aliyah (semangat yang tinggi), di dalamnya menertibkan muslim akan urusan hidupnya sesuai dengan skala prioritas, dan bersungguh-sungguh dalam bekerja; mengharap redha Tuhannya dan bermanfaat untuk umatnya, bersungguh-sungguh dalam beribadah dan baik dalam menjalin hubungan kepada Allah sehingga tertulis di penghujung bulan yang mulia sebagai orang yang mendapat kemenangan dan keberuntungan, yang mendapatkan keredhaan dari Allah dan memanfaatkan dari bulan ini pelajaran-pelajaran dalam menyusun urusan kehidupan mereka dan memperbaiki kondisi mereka.
Bulan kebebasan dan perbaikan
Ramadhan adalah bulan kebebasan, kekuatan cita-cita dan perbaikan jiwa manusia, yang menjadi awal langkah perbaikan dan pengokohan, barangsiapa yang mampu melakukan perbaikan diri maka akan mampu mewujudkan perbaikan dalam medan kehidupan dan kerja Imam syahid Hasan Al-Banna –pengasas dakwah yang penuh berkah ini, dakwah ikhwanul muslimin – berkata: “Ladang kalian yang pertama adalah jiwa kalian, jika kalian mampu memenangkannya maka terhadap orang lain akan lebih mampu…” seorang muslim yang mampu menguasai jiwa dan syahwatnya, melatih dirinya sepanjang bulan ini dalam memperkokoh ambisi dan menguasai diri, menguasai keperluan dan tuntutannya…maka akan mampu mewujudkan mukjizat dan prestasi-prestasi.
Bulan ramadhan merupakan salah satu karunia dari Allah untuk umat ini, dan Rasulullah saw bersabda
“إن لله في أيام دهركم نفحات ألا فتعرَّضوا لها
“Sesungguhnya Allah dalam tiap-tiap hari dari kehidupan kalian ada karunia, maka berusahalah mengambilnya”, yaitu memanfaatkan dari untuk memperkuat iman, memperbaiki diri dan menambah kedekatan kepada Allah SWT; agar menjadi pelaku perbaikan di muka bumi dan memakmurkan dunia, memimpin umat manusia menuju kebaikan dan kebahagiaan.
Bulan ramadhan adalah merupakan kesempatan kita yang selalu dan terus ada sebagai umat yang menginginkan kebaikan dan perubahan, berusaha untuk muncul menuju perbaikan penyimpangan manusia yang selalu menggelorakan kerosakan, penindasan, kekejaman dan kedzaliman, mendorong pada kebudayaan material yang merosak, menyokong kedzaliman dan penjajahan, menyebarkan kerosakan, kehancuran dan peperangan, menuju peradaban manusia yang mulia, kehidupan yang dipenuhi dengan iman, tauhid dan keadilan.
Betapa kita – individu dan umat – butuh untuk memanfaatkan pelajaran-pelajaran dari bulan ramadhan untuk memperbaiki kondisi kita, mengembalikan skala prioriti yang akan kita lakukan, menghadirkan tauladan dunia yang baru, mengembalikan dunia pada kebenaran, karena kita memiliki segala tiang-tiang kebangkitan, seluruh dasar-dasar kemajuan dan kemenangan atas kelamahan dan kehinaan, umat yang selalu baik dalam melakukan puasa dan qiyam, ruku dan sujud di hadapan Tuhannya, umat yang tidak akan kalah selamanya sementara kemenangan selalu menyertainya.
Kepada kaum muslimin…
Saya sampaikan kepada seluruh umat Islam di mana saja mereka berada, khususnya kepada para ikhwan, anak-anak dan cucu-cucu yang memiliki intisab kepada dakwah ikhwanul muslimin: bahwa bulan ramadhan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka dari itu pergunakanlah dengan sebaik-baiknya dan manfaatkanlah waktu-waktunya dari pelajaran-pelajaran dalam menguatkan keimanan, dan memperbaharui baiat kepada Allah, memenuhi janji kepada agama kita, ikhlash untuk umat dan mampu melakukan perubahan, perbaikan dan nasihat sepampu melakukan dijalannya, marilah kita beramal, berjuang dan berkorban, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imron : 133)
Adapun ikhwah yang berada di balik jeriji besi dan yang ditangkap…saya memohon kepada Allah agar dilepas dari kezaliman, dikembalikan kepada keluarga mereka dengan selamat dan tidak kekurangan suatu apapun, menerima kesabaran, ketsabatan dan jihad mereka, dan memberikan umat dengan kebebasan dan keadilan, mengangkat musibah, kedzaliman dan tekanan.
Diawal tahun pelajaran…
Sebelum saya tutup risalah ini saya ucapkan selamat dan tahniah di awal tahun pelajaran baru kepada mereka yang mulia para guru yang gigih di lembaga-lembaga pendidikan, baik di negeri-negeri arab dan Islam, mereka yang selalu mengorbankan waktu, tenaga dan ilmu untuk membina, mendidik dan mengarahkan anak-anak kami, menanamkan nilai-nilai yang mulia dan akhlak yang bersih untuk membangun masa depan yang lebih cerah bagi umat dan Negara.
Kami kepada para pelajar dalam berbagai tingkatannya, hendaklah kalian bersungguh-sungguh dan semangat, mengerahkan dengan semampu kalian untuk meningkatkan prestasi dan pendidikan, menjadikan usaha ini sebagai kewajiban agama, tujuan mulia dan penting bagi umat dan Negara, saya juga menyerukan kepada para guru, pendidik dan murabbi untuk mengerahkan segala potensinya; untuk menanamkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, bersungguh-sungguh dan mencinta pekerjaan dan belajar dalam jiwa anak-anak kami baik laki-laki dan perempuan, dan menanamkan juga kepada mereka untuk menolak perasaan hina dan rendah diri, menolak kedzaliman dan keterpaksaan, karena mereka adalah pemuda yang merupakan tiang kebangkitan, cita-cita umat dimasa depan yang lebih cerah.
Kami sangat menghargai ilmu dan ulama, dan Rasulullah saw bersabda :
“طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة”.
“Menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim laki-laki dan perempun”.
Semoga kebaikan selalu mengiringi kalian sepanjang tahun… “ Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya”. (Yusuf : 21)
Segala puji hanya milik Allah dari pertama dan akhir… dan salawat dan salam kepada nabi Muhammad saw beserta keluarga dan sahabat. Amin.
DR. Muhammad Mahdi Akif, Mursyidul’ Am Al-Ikhwanul Muslimin

Ramadhan 1: Bicara Hati
Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum wbt..
Kehadapan sahabatku Insan;di Taman Perumahan Dunia,Cakerawala.
Apa khabar sahabat?Moga berada di dalam limpah rahmat Allah dan peliharaan iman hendaknya.
Insya-Allah seperti tahun-tahun lepas,saya akan datang ke Taman Perumahan Dunia untuk menziarah seperti biasa.Seperti ketika tahun-tahun terdahulu.Dah hampir setahun tak berjumpa.Harapnya rindu untuk bertemu itu masih ada.
Teringat pula waktu-waktu ziarah yang sebelum ini.Terutamanya ketika zaman Islam masih tertegak teguh dulu.Masa zaman tu,memang saya disambut meriah.Sepanjang malam orang di sana-sini berjaga hingga ke awal pagi selepas solat sunat tarawih.Ada yang menemankan saya dengan qiyamullail,dengan bacaan al-Quran,dengan segala ibadah seribu satu macam.Sanggup mengorbankan tidur,keselesaan diri dan nafsu untuk benar-benar menghayati kebersamaan dalam ziarah itu.Dan ketika itu,memang semua orang berlumba-lumba ingin membuat kebajikan dengan kehadiran saya,kerana percaya dengan janji Allah yang mereka akan diganjari dengan kebaikan sepuluh kali ganda.Di sana-sini orang melimpah-ruahkan sedekah,melipatgandakan ibadah.Tambah-tambah lagi di hujung sepuluh malam terakhir,semakin bersemarak rasanya ziarah saya dirai.Dan bila tiba waktu meninggalkan Taman Perumahan Dunia kerana Syawal pula hendak datang berkunjung,ramai yang menangisi pemergian.Rindu sungguh dengan waktu itu.
Tapi entah kenapa,bila masa berlalu,terasa berubah pula sambutan penghuni Taman Perumahan Dunia pada kedatangan saya.Terasa seolah makin dingin.Seolah datangnya saya tak lagi diterima dengan tangan terbuka.Entah di mana silapnya.Terasa diri ini datang sebagai tetamu yang tak diundang.Masih terbayang lagi di ingatan,pernah di suatu tahap,kehadiran saya tidak diendahkan langsung.Sudah tiadakah rasa kerbersamaan itu walau sekuman?Kita hanya berjumpa setahun sekali bukan?Hanya setahun sekali menahan lapar dan dahaga bersama untuk merasa perit orang lain yang menderita.Tetapi semasa waktu ziarah itu,kekangan nafsu itu pun telah banyak yang tiada.Ramai yang makan minum di waktu matahari tegak di atas kepala.Tanpa segan silu seolah alah bisa tegal biasa.Sungguh.Ketika itu seolah kehadiran saya wujudnya tiada.Tiada yang meneman,tiada yang melayan.Malam-malam yang dulunya meriah dengan tadarus al-Quran dan solat malam,telah disesarkan oleh gegak gempita jeritan di plasma skrin gergasi melihat bola sebiji yang ditendang dikejar di tengah padang.Sungguhkah ziarah tahunan ini tiada siapa lagi yang menantinya? Sungguhkah saya akan berseorangan sepanjang sebulan itu tanpa berteman?

Insan sahabatku,ziarah kali ini harapnya saya tidak lagi ditinggalkan sendirian di rumah ketika kalian yang lain sibuk dengan hal-hal sendiri.Harapnya dapat diluangkan sedikit masa bersama saya kali.Mungkin dapat kita hidupkan kembali waktu di mana manusia berlumba menimba pahala. Waktu di mana penghuni Taman Perumahan Dunia masih lagi menerima kedatangan saya dengan tangan terbuka.Waktu di mana datangnya saya dinanti dan pemergian ditangisi.Mungkinkah Insan?
Insya Allah saya akan tiba minggu hadapan dan seperti biasa tinggal selama sebulan.Jangan hampakan saya,sahabat.Moga ziarah kali ini bermakna dan di bawah rahmah Allah.
Salam ‘ubudiyyah,
Ramadhan al-Mubarak
(Dipetik dari Editor’s Notes bulletin Al-Falah (local magazine NC) Edisi Sya’aban..terima kasih
)








Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.